Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita

Kolaborasi Bengkel APPeK NTT dan Warga Merbaun Bangun Kesadaran Jaga Laut dari Ancaman Sampah

16
×

Kolaborasi Bengkel APPeK NTT dan Warga Merbaun Bangun Kesadaran Jaga Laut dari Ancaman Sampah

Share this article
Aksi Bersih Pantai dan Diskusi Tematik di Desa Merbaun
Example 468x60

MediaKitaNews – Bengkel APPeK NTT bersama masyarakat Desa Merbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, menggelar Diskusi Tematik dan Aksi Bersih Pantai di Pantai Puru, Senin (27/7/2026). Kegiatan ini mengusung tema “Pentingnya Peran Masyarakat dalam Menjaga Lingkungan Pesisir dari Pencemaran dan Sampah Laut” sebagai bagian dari implementasi Program Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act (TFCCA).

Program TFCCA merupakan kerja sama bilateral Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat yang didukung oleh Konservasi Indonesia (KI) dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Program ini bertujuan memperkuat konservasi ekosistem terumbu karang melalui pembiayaan inovatif dan kolaborasi multipihak demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Example 300x600

Sebagai mitra Konservasi Indonesia, Bengkel APPeK NTT melaksanakan Program Pemberdayaan Masyarakat untuk Pengelolaan Kawasan Konservasi dan Pengembangan Ekonomi Berbasis Kolaborasi di Desa Erbaun dan Desa Merbaun. Pendampingan tersebut difokuskan pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam perlindungan kawasan pesisir, pembentukan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas), penyusunan Peraturan Desa (Perdes), hingga pengembangan potensi wisata berkelanjutan.

Koordinator kegiatan, Miju, mengatakan bahwa aksi bersih pantai bukan sekadar kegiatan memungut sampah, tetapi menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk memahami pentingnya menjaga kawasan pesisir.

“Kegiatan ini bukan hanya membersihkan pantai, tetapi mengajarkan anak-anak dan masyarakat mengapa kita harus menjaga lingkungan pesisir. Sampah yang kita temukan hari ini menjadi bahan pembelajaran bersama mengenai dampaknya terhadap laut dan kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Peserta yang terdiri dari masyarakat, pelajar SDN Purnama, siswa SMK Swasta Hasael, tokoh agama, pemerintah desa, dan calon anggota Pokmaswas terlebih dahulu melakukan aksi bersih pantai dengan memilah sampah plastik, kain, tali nilon, dan berbagai jenis sampah lainnya yang ditemukan di kawasan Pantai Puru.

Dalam sesi diskusi, fasilitator Thersia Ratu Nubi menjelaskan bahwa pencemaran sampah, terutama plastik, menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan ekosistem pesisir dan biota laut.

Menurutnya, sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat mencemari lingkungan, mengganggu habitat ikan, terumbu karang, padang lamun, hingga menyebabkan kematian satwa laut akibat terlilit atau menelan sampah plastik.

Selain itu, masyarakat juga diajak memahami bahwa sampah sebenarnya memiliki nilai ekonomi apabila dipilah dan dikelola dengan baik.

“Sampah akan menjadi masalah ketika dibuang sembarangan. Tetapi apabila dipilah dan didaur ulang, sampah justru dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” jelas Thersia.

Diskusi berlangsung interaktif. Sejumlah pelajar mampu menjelaskan perbedaan sampah organik dan anorganik, sementara masyarakat berbagi pengalaman mengenai sumber sampah yang berasal dari aktivitas rumah tangga maupun yang terbawa arus laut.

Dalam kesempatan tersebut, Bengkel APPeK NTT juga memperkenalkan Pokmaswas BERKAT Desa Merbaun yang telah dibentuk pada 30 Juni 2026 dan saat ini sedang menunggu penerbitan Surat Keputusan (SK) dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Ketua Pokmaswas BERKAT, Yakob Bureni, menegaskan komitmen kelompoknya dalam menjaga kawasan pesisir agar tetap lestari.

“Kami siap menjaga wilayah pesisir dan laut di Desa Merbaun. Kami berharap mendapat dukungan dari semua pihak agar Pokmaswas dapat menjalankan tugas pengawasan dengan baik,” katanya.

Pokmaswas nantinya akan menjalankan tiga fungsi utama, yakni patroli dan pengawasan kawasan pesisir, pelaporan pelanggaran kepada instansi berwenang, serta edukasi dan penyadartahuan kepada masyarakat.

Dalam diskusi juga mengemuka potensi besar Pantai Puru sebagai destinasi wisata berbasis konservasi. Fasilitator menilai kawasan tersebut memiliki panorama yang indah, pepohonan rindang, serta tingkat kebersihan yang relatif lebih baik dibanding beberapa pantai lain di Kabupaten Kupang.

Namun demikian, pengelolaan kawasan dinilai masih perlu diperkuat melalui penyediaan tempat sampah, perbaikan fasilitas umum, peningkatan akses jalan, serta penyusunan Peraturan Desa mengenai pengelolaan wisata dan kebersihan kawasan pantai.

Ke depan, Bengkel APPeK NTT juga berencana mendampingi masyarakat membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sebagai mitra Pokmaswas dalam mengembangkan potensi wisata berbasis konservasi.

Melalui kegiatan tersebut, seluruh peserta menyepakati sejumlah rencana tindak lanjut, di antaranya pembangunan tempat sampah bersama oleh SMK Swasta Hasael dan Gereja GMIT Nasaret Puru, pemisahan sampah organik dan anorganik di SDN Purnama, pembibitan mangrove oleh Pokmaswas BERKAT, serta pembangunan pos pemantau kawasan pesisir.

Selain itu, Bengkel APPeK NTT juga akan memfasilitasi penyusunan Peraturan Desa tentang Perlindungan Kawasan Pesisir yang akan mengatur berbagai larangan terhadap aktivitas yang berpotensi merusak ekosistem, termasuk penebangan mangrove, pengambilan pohon santigi, penggunaan racun ikan, hingga pengelolaan sampah di wilayah pesisir.

Melalui kolaborasi antara masyarakat, sekolah, gereja, pemerintah desa, dan berbagai pemangku kepentingan, diharapkan kawasan pesisir Desa Merbaun dapat tetap lestari sekaligus berkembang menjadi destinasi wisata yang bersih, nyaman, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.***

Example 300250
Example 120x600