Donald Trump makin agresif memanfaatkan kecanggihan AI untuk kampanyenya, termasuk memproduksi materi yang dianggap manipulatif. Belakangan muncul konten yang menampilkan sosok George Washington — presiden pertama AS — seolah-olah bicara atau menunjukkan dukungan, yang langsung bikin heboh jagat media.
Beberapa pihak melaporkan kalau materi itu dihasilkan dengan teknologi pembuatan suara dan video berbasis AI, sehingga sangat meyakinkan tapi menyesatkan. Para kritikus bilang langkah ini masuk wilayah abu-abu etika: memakai figur sejarah untuk mempengaruhi emosi pemilih tanpa konteks yang jelas. Sementara itu tim Trump menanggapi bahwa penggunaan teknologi semacam itu adalah bagian dari strategi komunikasi modern.
Reaksi publik dan pemeriksa fakta pun beragam; ada yang khawatir soal batasan informasi palsu, ada juga yang mempertanyakan regulasi seputar AI dalam politik. Perdebatan ini membuka diskusi lebih luas soal bagaimana membedakan konten otentik dan hasil deepfake di era digital.
Intinya, kampanye politik sekarang bukan cuma soal pidato dan iklan TV — AI sudah masuk arena dan membuat permainan jadi lebih rumit. Untuk kita sebagai pemilih, pesan pentingnya: cek sumber dulu sebelum percaya dan sebarkan, karena tampilan canggih belum tentu jujur.






